Pertemuan Ajaib itu Ternyata Sebuah Kebutuhan


Masih seputar persambatan "ke-sat set an" zaman. Kalau kata ibu Puty "Siapa sih yang mengawali semua ke.. sat set an ini?!". Ya.. rasanya semakin dewasa semakin ngga punya waktu istirahat. Hari hari dihabiskan untuk menyelesaikan urusan urusan, mengejar target, melupakan fakta kalau kita semua perlu waktu dalam memproses perubahan. Berapa ribu lembar kertas dan validasi atasan yang sudah diusahakan mati matian. Berapa banyak revisi dan penghakiman yang ditekankan dalam diri sendiri. Coba .. itung itung lagi? berapa lama bohong sama diri sendirinya?. Wadidaw..

Ya, kita memang belum terbiasa, kalau ternyata semua hal yang serba cepat ini punya efek samping besar terhadap daya tahan seseorang. Masih meroasting dari generasi Z sendiri. Banyak yang bilang gen Z cupu, lembek, dan punya kemampuan resiliensi yang rendah. Tapi gimana kalau dalam case ini, siapa tahu bukan karena lemah akibat kita nggak mau berusaha? tapi seluruh perkembangan dan kecepatan zaman ini yang sudah secara langsung maupun tidak langsung merampas waktu eksplorasi kita. Jadinya bingung kaya lagunya hindia "Untuk apa?"

Lompatan besar besaran, kemajuan teknologi, kemajuan kecerdasan buatan, kemajuan .. kemajuan.. kemajuan.. sampai kita lupa tentang "memangnya sudah siapkah kita menghadapi semua lompatan ini?" Gap akibat adanya perubahan yang serba ada, serba cepat, serba tersedia, ternyata bikin kita bergantung dengan hal hal yang sifatnya 'sementara ini'. Mulai dari cara personal branding, sampe cara kaya dengan 5 menit semua ada tutorialnya, semuua ada yang ngasih tahu, semua berlomba lomba merasa ''berdampak''. Padahal mungkin kita tidak membutuhkan informasi sebanyak itu, secepat itu, dan sebias itu. Bisa jadi yang kita butuhkan selama ini adalah .. "pertemuan dengan diri sendiri".

Ngga cape kah? Ngejar apa sih?

(yak si paling rehat)

Sederhana, tapi mungkin udah lama gak ditanyain..

"Hey .. are you here ?"

Tapi serius ya, siapa tahu memang yang dibutuhkan saat ini adalah kemampuan beradaptasi atau kemampuan mengidentifikasi tentang pentingnya "pertemuan". Kaya saking cepetnya, lupa nih kalau semisal kompromi pertama yang harus dilakukan ya dengan  diri sendiri dulu, kompromi dengan siapa yang memiliki jiwa dan raga ini. Kompromi dan lebih empati tentang hal hal yang perlu diapresiasi dan didengarkan dengan sepenuh hati. Lupa, ada momen pertemuan yang sudah lama diputus karena sibuk mengais validasi diluar. Kaya.. "deh kalo belum viral belum sukses dong".

Sahabat pertemanan 3 senti ku pernah protes tipis juga soal betapa aku terlalu exploiting my self kalau kerennya bahasa sekarang sabotating dengan selalu terobsesi menjadi "sempurna" dalam pekerjaan.. tapi juga sambaaat all the time. Doi bilang " Mut aku merindukan pembicaraan tentang kebodohan kebodohan dan pembicaraan sambatan komedimu, kita merindukan mutici yang lawak" kurang lebih belio memberi masukan seperti itu. Seketika aku merenung sembari membatin,

Bentar? jangan jangan yang menutup akses pertemuan ini aku sendiri? Loh HE.. yajugaya? kenapa ya halo muhasabah dulu  mutiki yang paling merasa bersalah soal leha leha. Kaya.. take a rest malah bisa jadi begitu sangat menyiksa karena merasa belum layak untuk mengambil waktu rehat, istirahat, dan berhenti bentar. Lagi lagi makhluk kaku suka obsesi sama sistem, kayanya nih mutiki kumat lagi tentang mempersempit pengertian suatu hal. Mempersempit arti kata "istirahat". Padahal kalau kita lihat dari sudut pandang lain, bentuk istirahat itu bisa jadi berarti menggeser energi dan konsentrasi dari satu kegiatan ke kegiatan lain ya. Make sense kan? Contohnya ya kalo belajar yoga untuk meditasi biasnaya dipandu untuk "Yak konsentrasi.. kosongkan pikiran.." nah ! perlu konsentrasi kan!. Sampe suatu ketika kepikiran, oh iya ya ? jangan jangan selama ini aku kurang konsentrasi untuk istirahat.

Like mba Maudy Ayunda once said, “Childish” has a bad connotation but sometimes its important to befriend and embrace your inner child. The burdens of adulting can be too heavy, and too distracting, and we overlook our core need for fun and play. They exist, we simply must give them a voice". Berlandaskan pemikiran mba Maudy akhirnya mutiki memutuskan untuk mengaolkasikan 1 hari off dalam rangka melakukan hal yang aku sukai sewaktu kecil. Bisa jadi itu hobi, bisa jadi itu ya kesenangan masa kecil aja, melakukan hal - hal "kekanak kanakan", katanya. Ya.. masih dicoba satu bulan sekali sih tapi ternyata, menyenangkan sekali ! pertemuan pertama aku menghabiskan satu hari untuk melukis bersama teman SMA, surprisingly aku yang udah ga pernah pegang cat air dan kuas sejak 5 tahun lalu itu ngerasa kaya "wah guwendheng suweru-on". Bahkan ternyata rasanya sangat menyembuhkan. Meskipun guru melukisku iku ngomel wae karena aku kebanyakan nanya "Fia .. iki yoopo carane, fii pake kuas seng endi, fii iki nyambung gak warnane". Akhirnya seonsaengnim satu itu muntab bin protes, "Hatdoo Mut, menggambar, melukis itu gausah takut salah, gausah kebanyakan mikir, uwes gek ditutul dihayati, being present". Lalu aku terdiam dan sekaligus terharu.

Oh Mutia gupuh ananda, cuba ternyata banyak banget kehawatiran kehawatiran yang nggak disadari sudah membentuk dan mengakar dalam kebiasaan, aduh kasihan sekali kamu mutiki kecil nggak pernah dikasih kesempatan untuk muncul ke permukaan karena lagi lagi, memilih untuk tidak mendengarkan diri sendiri yang dianggap "kekanakan". Ternyata kita memang butuh untuk memiliki pertemuan ajaib dengan diri sendiri yang bisa jadi dipicu dari adanya pertemuan dengan sesama makhluk-Nya. Ternyata sepenting itu lo mengalokasikan waktu untuk mengalihkan energi dan konsentrasi kepada sesuatu yang mungkin perlu kita temukan kembali.

Perasaan yang sangat hangat seperti kembali pulang setelah jauh berkelana ternyata melegakan tapi juga mengejutkan. Nah rasa lega ituuu juga aku rasa kan ketika habis ngobrol ngalor ngidul dengan seorang kerabat dekat akhir pekan lalu. Awalnya kita mau bahas rencana studi tapi jadinya malah kemana mana. Mulai ngobrolin soal chance, personality, aliran energi manusia ekstrovert dan introvert, ekonomi dan pendidikan, kemiskinan, ngomongin digital literasi, sampek AI. Ngga dipaksa ngga di- skenario-in, ngalir gitu aja eh tiba tiba udah empat jam ngecebret bersama. Pulang rasanya penuh, ngobrol dan mendengarkan satu sama lain tanpa ada judgment rasanya menyegarkan sekali setelah melalui seminggu penuh hari hari yang berat :'), dan baru sadar juga  ternyata aku sudah lama tidak melakukan ituu. Ya.. lagi lagi tentang pertemuan ajaib dengan just being present dan ngobrolin hal hal sederhana ternyata memang bisa jadi istirahat paling menyenangkan yang semoga, bermanfaat. Minimal bermanfaat untuk diri sendiri lah ya soalnya hepii.

Ya ini baru langkah awal sih, tapi seenggaknya dengan kita bertemu dengan banyak ragam kesempatan, bisa mengantarkan kita menjadi pribadi pribadi yang kaya dan punya mitigasi taktis ketika menghadapi sebuah persoalan dalam hidup yang penuh kejutan ini. Semoga kita semua termasuk dalam kelompok yang diparingi kemampuan untuk terus mencari pertemuan baik dan ajaib semata mata untuk selalu ingat kalau rahmat Allah itu luas dan bisa dalam bentuk apa saja.

Nggak cape cape nulis kalimat ini; Pertolongan dan rahmat Allah yang bentuknya macam macam. RahmatNya yang mungkin kadang kadang hanya bisa diidentifikasi melalui hati hati yang lapang dan bersih, hati yang cukup dan tenang. Semoga kita juga semakin peka untuk mempersilahkan anak kecil dalam jiwa ini bermain dan bersuara dengan nyaman. Like Maudy said too "Be more… child-like in a few ways. Driven by curiosity, unafraid of making mistakes, and easily amused by the wonders of the world". Selamat belajar terus, semoga kita nggak mudah menyerah untuk berkenalan dengan diri sendiri setiap masanya. Semoga harimu menyenangkan ya, jangan lupa berjalan senyamannya.

Komentar

Posting Komentar