Masih syawal kita maaf maafan dulu lah ya ! kali ini mau kembali refleksi secara berkala lagi tentang proses belajar sepanjang hayat ini, apalagi kalau bukan - mempelajari tiap layer dan kejadian kejadian dari urip yang sudah diberikan kepada kita ini.
Oke kita mulai
Siapa disini yang sering suka pasang kuda-kuda kalau lagi ngerasa bahagia? atau tetep gabisa ketawa lepas karena udah curiga. "Kok hidup baik baik saja?! woa ada apa ini .. kan genre hidupku romusha?!". Sangking seringnya bikin sistem mitigasi reiko malah jadi curigaan dan gabisa positif thingking. Ada yang bilang - bisa saja respon perilaku seperti ini adalah bentuk coping dari trauma, atau mungkin ya inilah fakta menyedihkan yang lagi lagi bentuk nyata efek dari tsunami dopamin itu nyiatah. Cabang penyakit manusia modern lainnya yang udah sering disebut juga- Takut kesepian."Takut ditinggalkan, jadi saya pamit duluan". "Takut ditinggalkan, jadi saya pleasing everyone".
Azek
Ngomongin soal kesepian kemarin waktu lalu, ada cerita menarik!. Awalnya anak udik dari daerah ini mo nyobain naik MRT (udik banget sumpah) - tapi jiwa ku udah lelah melihat kerecohan didalem KRL dan jadilah spontan uhuy turun di Depok (ya Allah jyan salim wolak walik para pejuang sambung kehidupan di Kota kota besar yang tiap hari harus senggol bacok naik transportasi umum - keleyan keren bangets). Oke setelah turun di stasiun UI kita jalan jalan tuh sendirian di kampus orang. Garis bawah - sendirian. Sebagai manusia yang sering ga dibolehin pergi jauh sendirian tentu ini adalah kesempatan langka (walupun lebih ke nekat ya). Ada tuh jalan 11.000 langkah hari itu (nyasar ya Allah UI gede banget sumpil) sendirian .. sepi dan yaa seru aja ! sambil melihat arsitekturnya, sambil menikmati suasananya, terus balik naik KRL sendiri. Pulang naik KRL gadapet duduk- berdiri kitak mana udah jompo pula, jam crowded, hujan. Malu sih ya harusnya ama yang tiap hari nelen begini.
Berada ditengah ketidaknyamanan ku njegidek ternyata ada Kakek kakek yang notice dan jadi cerita!.
Singkat cerita si Kakek (sebut saja kakek ya) udah mengadu nasib tiap hari bolak balik Bogor - Jakarta buat kerja di salah satu perusahaan swasta selama 45 tahun. Sepanjang perjalanan kakek cerita tentang bagaimana perjuangannya untuk terus 'hidup'. Kata kata kakek yang bikin terhenyak waktu itu, "Waktu istri saya pergi - saya sempat nggak 'hidup', waktu itu mau sebising apapun gerbong ini.. tetep sepi. Tapi, setelah beberapa lama juga saya sadar, kalau penebusan rasa sepi itu adalah dengan jujur". Jujur, kalau yang saya sedihkan ini tidak akan merubah apapun. Sangat menyakitkan rasanya untuk bisa jujur kepada diri sendiri. Satu hal yang saya ucapkan berulang ulang.. tidak adil rasanya kalau rasa kesepian ini membuat saya membenci suratan Tuhan, maka 'jujur' pada fase kesepian ini adalah bentuk penebusan saya sampai hari ini". MasyaAllah sekali kalau kita recall memori waktu itu, dan bagaimana Allah mengatur pertemuan ajaib ini!.
Siapa disini yang sering suka pasang kuda-kuda kalau lagi ngerasa bahagia? atau tetep gabisa ketawa lepas karena udah curiga. "Kok hidup baik baik saja?! woa ada apa ini .. kan genre hidupku romusha?!". Sangking seringnya bikin sistem mitigasi reiko malah jadi curigaan dan gabisa positif thingking. Ada yang bilang - bisa saja respon perilaku seperti ini adalah bentuk coping dari trauma, atau mungkin ya inilah fakta menyedihkan yang lagi lagi bentuk nyata efek dari tsunami dopamin itu nyiatah. Cabang penyakit manusia modern lainnya yang udah sering disebut juga- Takut kesepian."Takut ditinggalkan, jadi saya pamit duluan". "Takut ditinggalkan, jadi saya pleasing everyone".
Azek
Ngomongin soal kesepian kemarin waktu lalu, ada cerita menarik!. Awalnya anak udik dari daerah ini mo nyobain naik MRT (udik banget sumpah) - tapi jiwa ku udah lelah melihat kerecohan didalem KRL dan jadilah spontan uhuy turun di Depok (ya Allah jyan salim wolak walik para pejuang sambung kehidupan di Kota kota besar yang tiap hari harus senggol bacok naik transportasi umum - keleyan keren bangets). Oke setelah turun di stasiun UI kita jalan jalan tuh sendirian di kampus orang. Garis bawah - sendirian. Sebagai manusia yang sering ga dibolehin pergi jauh sendirian tentu ini adalah kesempatan langka (walupun lebih ke nekat ya). Ada tuh jalan 11.000 langkah hari itu (nyasar ya Allah UI gede banget sumpil) sendirian .. sepi dan yaa seru aja ! sambil melihat arsitekturnya, sambil menikmati suasananya, terus balik naik KRL sendiri. Pulang naik KRL gadapet duduk- berdiri kitak mana udah jompo pula, jam crowded, hujan. Malu sih ya harusnya ama yang tiap hari nelen begini.
Berada ditengah ketidaknyamanan ku njegidek ternyata ada Kakek kakek yang notice dan jadi cerita!.
Singkat cerita si Kakek (sebut saja kakek ya) udah mengadu nasib tiap hari bolak balik Bogor - Jakarta buat kerja di salah satu perusahaan swasta selama 45 tahun. Sepanjang perjalanan kakek cerita tentang bagaimana perjuangannya untuk terus 'hidup'. Kata kata kakek yang bikin terhenyak waktu itu, "Waktu istri saya pergi - saya sempat nggak 'hidup', waktu itu mau sebising apapun gerbong ini.. tetep sepi. Tapi, setelah beberapa lama juga saya sadar, kalau penebusan rasa sepi itu adalah dengan jujur". Jujur, kalau yang saya sedihkan ini tidak akan merubah apapun. Sangat menyakitkan rasanya untuk bisa jujur kepada diri sendiri. Satu hal yang saya ucapkan berulang ulang.. tidak adil rasanya kalau rasa kesepian ini membuat saya membenci suratan Tuhan, maka 'jujur' pada fase kesepian ini adalah bentuk penebusan saya sampai hari ini". MasyaAllah sekali kalau kita recall memori waktu itu, dan bagaimana Allah mengatur pertemuan ajaib ini!.
Recall memori juga akhirnya waktu sempat menanyakan persoalan kesepian kepada manusia paing ahli dan terampil menyikapi kesepian. Ya, beliau adalah Ibu.
Percakapannya kira kira begini ...
👧"Buk kapan ibu merasa paling kesepian seumur hidup?"
👩"Ibuk ndak merasa kesepian, memang kamu pernah lihat ibuk kesepian? Ibuk nggak kesepian gini lo.. salah, ibuk ndak memilih untuk merasa kesepian".
....
Belajar memaknai kesepian dari ibuk,
Mungkin - ibuk ndak terlihat kesepian karena Ibuk memutuskan untuk tidak merasakan kesepian sebagai bentuk permasalahan. Tapi gimana caranya yaaak ibu bisa memilih untuk ndak merasa kesepian. Sebenernya kita juga belum begitu paham .. dan malah agak overthingking yah nih PR memahami konsep kesepian dan penebusan kesepian dengan jujur. Sampai seteah kembali ke Malang, masih aja nih kepikiran apapula itu ya.
Tapi itulah serunya mempelajari variabel variabel kedirian manusia. Kalau boleh saya tarik sedikit benang merahnya (berdasarkan dari yang baru aku pahami juga sih ya). Kesepian adalah kepastian. Ibu mengajarkan kalau konsep sepi itu pasti dan kesepian itu resiko, respon ibu terhadap resiko kesepian adalah memilih untuk tidak 'merasakan' kesepian- bukan 'merasakan sepi'. Sepi berarti sebuah fakta yang menunjukkan kondisi yang objektif sedangkan kesepian adalah bentuk respon, dan respon adalah sesuatu yang bisa kita pilih secara sadar. Kakek tahu persis yang membuat ia tersiksa adalah memilih terus merasakan kesepian, dan kakek menggambarkan cara beliau memilih untuk menghadapi respon kesepian berlarut adalah dengan 'menebus'. Menebus juga bisa disimbolkan tentang proses berkorban, dan kakek memilih kejujuran sebagai simbol yang berharga dan penuh pengorbanan untuk membebaskan rasa kesepian yang dilakukan berkala.
Belajar memahami kesepian dan ketakutan akan kesepian, seharusnya setelah ini mutiki paham dong kalau ternyata, tidak ada yang salah dengan sepi. Karena mungkin yang membuat kita tersiksa adlah kita tidak jujur kalau kita memilih repon kesepian saat sepi. Respon adalah pilihan, dan ada resiko disetiap pilihan. Maka (mungkin) ketika kita takut merasakan kesepian berarti kita takut terhadap apanya? apakah kita benar takut sepi? tapi bukankah sepi adalah kepastian? jadi yang kita takutkan itu sepi .. atau .. tidak cukup berani jujur untuk menerima fakta sepi? tidak cukup berani jujur untuk menyanggupkan diri berproses menghadapi konsekuensi kesepian? atau mungkin termanipulasi harapan keadaan ideal dan kebohongan yang bernama realita.
Kita perkuat juga oleh salah satu nasihat teman, "Kalau kamu takut kesepian lagi.. emang selama ini nggak ngerasa kesepian?". Ya.. kita nggak akan bisa meghindari sepi, kita nggak bisa terus terusan hidup dengan terus membohongi diri sendiri terhadap "ide dari kehidupan yang bebas dari sepi'. Pahit, tapi mari kita coba hadapi, karena .. tidak ada solusi yang bisa dilakukan jika dalam mengidentifikasi maslahnya saja kita sudah tidak tuntas. Pahit sekali, tapi seperti kata kakek.. mari kita menebus kesepian dengan jujur.
Mari terus mempelajari variabel kehidupan dan terus berusaha reflektif terhada apa yang kita rasakan, apa yang kita lihat, apa yang kita alami.. sebagai bentuk rasa syukur dan bentuk mensyukuri. Masih akan terus diulang ulang nih closing statement iniekh ... kalaau
Guti Allah itu maha bertanggung jawab atas segala kehidupan makhluk-NYa,
Percakapannya kira kira begini ...
👧"Buk kapan ibu merasa paling kesepian seumur hidup?"
👩"Ibuk ndak merasa kesepian, memang kamu pernah lihat ibuk kesepian? Ibuk nggak kesepian gini lo.. salah, ibuk ndak memilih untuk merasa kesepian".
....
Belajar memaknai kesepian dari ibuk,
Mungkin - ibuk ndak terlihat kesepian karena Ibuk memutuskan untuk tidak merasakan kesepian sebagai bentuk permasalahan. Tapi gimana caranya yaaak ibu bisa memilih untuk ndak merasa kesepian. Sebenernya kita juga belum begitu paham .. dan malah agak overthingking yah nih PR memahami konsep kesepian dan penebusan kesepian dengan jujur. Sampai seteah kembali ke Malang, masih aja nih kepikiran apapula itu ya.
Tapi itulah serunya mempelajari variabel variabel kedirian manusia. Kalau boleh saya tarik sedikit benang merahnya (berdasarkan dari yang baru aku pahami juga sih ya). Kesepian adalah kepastian. Ibu mengajarkan kalau konsep sepi itu pasti dan kesepian itu resiko, respon ibu terhadap resiko kesepian adalah memilih untuk tidak 'merasakan' kesepian- bukan 'merasakan sepi'. Sepi berarti sebuah fakta yang menunjukkan kondisi yang objektif sedangkan kesepian adalah bentuk respon, dan respon adalah sesuatu yang bisa kita pilih secara sadar. Kakek tahu persis yang membuat ia tersiksa adalah memilih terus merasakan kesepian, dan kakek menggambarkan cara beliau memilih untuk menghadapi respon kesepian berlarut adalah dengan 'menebus'. Menebus juga bisa disimbolkan tentang proses berkorban, dan kakek memilih kejujuran sebagai simbol yang berharga dan penuh pengorbanan untuk membebaskan rasa kesepian yang dilakukan berkala.
Belajar memahami kesepian dan ketakutan akan kesepian, seharusnya setelah ini mutiki paham dong kalau ternyata, tidak ada yang salah dengan sepi. Karena mungkin yang membuat kita tersiksa adlah kita tidak jujur kalau kita memilih repon kesepian saat sepi. Respon adalah pilihan, dan ada resiko disetiap pilihan. Maka (mungkin) ketika kita takut merasakan kesepian berarti kita takut terhadap apanya? apakah kita benar takut sepi? tapi bukankah sepi adalah kepastian? jadi yang kita takutkan itu sepi .. atau .. tidak cukup berani jujur untuk menerima fakta sepi? tidak cukup berani jujur untuk menyanggupkan diri berproses menghadapi konsekuensi kesepian? atau mungkin termanipulasi harapan keadaan ideal dan kebohongan yang bernama realita.
Kita perkuat juga oleh salah satu nasihat teman, "Kalau kamu takut kesepian lagi.. emang selama ini nggak ngerasa kesepian?". Ya.. kita nggak akan bisa meghindari sepi, kita nggak bisa terus terusan hidup dengan terus membohongi diri sendiri terhadap "ide dari kehidupan yang bebas dari sepi'. Pahit, tapi mari kita coba hadapi, karena .. tidak ada solusi yang bisa dilakukan jika dalam mengidentifikasi maslahnya saja kita sudah tidak tuntas. Pahit sekali, tapi seperti kata kakek.. mari kita menebus kesepian dengan jujur.
Mari terus mempelajari variabel kehidupan dan terus berusaha reflektif terhada apa yang kita rasakan, apa yang kita lihat, apa yang kita alami.. sebagai bentuk rasa syukur dan bentuk mensyukuri. Masih akan terus diulang ulang nih closing statement iniekh ... kalaau
Guti Allah itu maha bertanggung jawab atas segala kehidupan makhluk-NYa,
......
akan selalu ada kuasa yang lebih besar dan tidak berbatas untuk segala persoalan
.....
Mengutip dari kata kata bang Ferry Irwandi "Tidak ada badai yg tidak usai, cepat atau lambat, tiap luka akan pulih dan mengering, mungkin meninggalkan bekas, tapi tidak lagi menyakitkan. Selama lo percaya, hari itu akan datang". Mari Terus percaya hari hari kita bertumbuh dan berflower akan datang, semoga perjalanan panjang kita ini tetap lebih banyak mengantarkan kita kepada hal hal yang bermakna ya! Cheers to many vigorous steps ahead ! Sehat sehaaat !
Sometimes we just need to embrace our feelings. Aren't we?
BalasHapusExactly !
Hapus