Memeluk Luka 8 Tahun Lalu, Terima Kasih ya.

 Hari ini tepat 8 tahun yang lalu ..

Perkenalkan, ini memori mutia kecil yang menolak untuk menghadapi luka dan traumanya untuk percaya terhadap orang lain. Merasa sok kuat, merasa dia hanya perlu mengatur semuanya lebih sempurna, memaksakan banyak hal untuk terus berada dalam sistemnya. Mutia yang masih dipenuhi rasa amarah punya ambisi manipulatif “buktikan semuanya kepada yang pernah menghancurkanmu sehebat ini”. Mutia kecil marah besar ketika mengetahui realita pahit bahwa banyak hal yang sering merampas rasa percaya dirinya. Sering kecewa dengan lingkungan yang  memberikan jawaban yang jauh dari ekspektasinya. Sering kecewa karena obralan mimpi mimpi yang dijual di luar sana. Sering juga sedih ketika merasa banyak sekali perasaan bingung terhadap hal yang tidak adil menimpanya. Mutia kecil yang selalu terobsesi dengan sistem sering kewalahan harus membuat sistem sempurnanya bisa “sempurna” bagi keberlangsungan hidup yang lainnya. Lupa akan lukanya, mutia sering memaksakan diri untuk terlihat – sempurna.

Mutia yang penuh dengan luka dan kesepian, karena ternyata dia meninggalkan dirinya sendiri selama 8 tahun serta sibuk mencari validasi usahanya kepada orang orang lain diluar sana. Merasa perlu menjelaskan kehebatan dirinya, merasa perlu mendengar apresiasi dari lingkungannya. Naas tapi rasanya amunisi ambisinya itu bukan dibangun dari energi yang baik, jadi perjalanan ambisinya untuk membuktikan diri selalu meminta kompensasi lainnya, waktu dan perasaannya. Ketika suatu ketika bertemu dengan pattern keadaan yang memicu lukanya 8 tahun yang lalu ia kehilangan banyak energi.

Seperti kata pepatah, “Forgiving is hard, but not forgiving makes us prisoners of blame and bitterness”- Gustavo Razzetti.

Ya, memaafkan itu sulit, tetapi tidak ada yang lebih berat dari terperangkap dalam perasaan tidak nyaman. Memaafkan bukan berarti melupakan, memaafkan berarti memilih untuk membebaskan diri dari sebuah ketidaknyamanan. Terlepas dari apa dan siapa yang benar, terlepas dari bagaimana keadaan sebenarnya baik terluka dan melukai kita semua pantas untuk memaafkan. Memaafkan sebuah bentuk pilihan.

Termasuk Memaafkan diri sendiri.

“Pengampunan adalah ketika seseorang mengambil keputusan secara sadar dan sengaja untuk melepaskan perasaan tidak nyaman terhadap seseorang, sekelompok, atau sesuatu yang telah menyakitinya, terlepas dari apakah mererka benar – benar pantas mendapatkan pengampunan atau tidak” -Dr. Fred Luskin

Perjalanan yang akhirnya bertemu titik terang. Setelah serangkaian gempuran dan penebusan luka batin selama 8 tahun terakhir, ternyata datang juga hari ini. Hari yang dipenuhi dengan rahmat Tuhan, untuk merelakan energi dan emosi yang selama ini bersembunyi dibalik batin yang sering merasa kosong ini. Pun selayaknya manusia terbatas lainnya, pilihan ini datang bukan serta merta atas kemampuan diri seorang. Banyak sekali ternyata pesan dan kode Tuhan untuk memberi tahu selama ini, lagi lagi mungkin karena keterbatasan manusia – suka tidak peka kalau diberi petunjuk, ah lagi lagi masih alesan saja kamu ini mut.

Menyelaraskan diri dengan hadirnya rahmat dan ridho-Nya hari ini, aku memberanikan diri untuk membuka semua luka lama, mengobatinya secara perlahan lahan, membiarkan kemerahan dan infeksinya yang mungkin hampir mengering untuk diberi pengobatan. Hari ini aku memenuhi hak diriku untuk merasa bebas. Setelah 8 tahun kabur, aku memeluk mutia kecil 8 tahun lalu atas segala perasaan kecewanya, perasaan marahnya, perasaan tidak amannya. Mutia yang penuh dengan trauma penilaian orang banyak, kepercayaan, dan masih banyak lagi luka yang ditimbun secara sadar maupun tidak sadar.

Maaf ya mut, karena selama ini sudah terlalu lama membohongi diri sendiri. Terlalu lama membiarkan lukamu terinfeksi sendirian. Terlalu lama menyimpan perasaan marah dan kecewa terhadap keadaan yang seharusnya kita lepaskan. Terlalu mengabaikan dirimu ketakutan sendirian, membiarkan dirimu untuk mendengar – merasakan – mengolah energi energi buruk yang terus menerus menggerogoti dirimu dari dalam. Maaf karena selama ini terlalu banyak menuntut diri sendiri untuk selalu sempurna..

Melepaskan hal hal yang bukan untuk kita - tidak akan membuat kita miskin dan kekurangan satu hal pun kok.. semua sesuai porsinya, yang melewatkan kita gaakan jadi milik kita- pun apa apa yang memang ditakdirkan menjadi milik kita - pasti dipenuhi kok sama gusti Allah. Karena yang terjadi – maka terjadilah.

"Allah maha bertanggung jawab atas segalaNya"

Warna warni perjalanan ini juga patut kok mut dirayakan, patut untuk diberi ruang. Perjalanan ini masih panjang, masih banyak sekali yang harus kita pelajari kedepannya. Masih banyak sekali tantangan dan hal berat lainnya didepan.

Perasaan yang tidak nyaman, penilaian yang tidak mengenakan, waktu yang tidak kenal ampun terus berjalan. Banyak sekali mut yang masih harus kita lewati. Munafik rasanya kalau gak bilang takut? Gak bilang sering jadi kepikiran, gak khawatir.. .

Tapi kita baik baik saja kan?

Toh..ternyata bukan waktu yang kejam, kita yang selalu tidak siap saja. Wajar ? ya ndak papa- berarti ini simbol keterbatasan manusia. Semua ini akan selalu jadi hal remeh di kemudian harinya.

Hidup maki hari makin susah, bukan makin gampang – kitanya yang tambah kuat. Kita mungkin bisa nertawain semua yang “tidak ada apa apanya” dengan tantangan yang akan datang ini mut, suatu hari nanti..

Tapi ..

Terima kasih ya mut.. karena sudah memilih untuk melepaskan mereka

Terima kasih ya mutiki karena sudah terus berupaya memberanikan diri untuk percaya bahwa kita bisa menghadapi segala ketidaknyamanan ini. Terima kasih karena memilih untuk terus bertumbuh, Terima kasih karena masih mau menerima dirimu dalam versi yang mungkin jauh dari apa yang kamu proyeksikan saat kecil. Terima kasih karena dengan besar hati untuk membangun lagi kepercayaan dirimu, terimakasih karena tidak kabur dari ketakutan ketakutan ini. Walaupun butuh 8 tahun untuk mengurai semuanya, tapi terima kasih banyak karena sudah membebaskan dirimu sendiri.

Walapun kamu belum benar benar terbebas, walaupun kamu belum bisa berjanji untuk terus membesarkan hatimu, tapi jangan pernah lagi meninggalkan diri sendiri- karena masih banyak orang yang mendoakanmu untuk tetap kuat.

Oh iya, terima kasih juga untuk semua orang yang sudah hadir di dalam hidup mutia. Terimakasih karena memberikan warna, pelajaran, dan energinya walaupun kadang akunya suka bawel dan galak. Terimakasih ya.

Mut, perjalanan menemukan diri sendiri akan masih berlanjut. Masih banyak perspektif baru yang akan mendewasakan kita- jadi jangan cepat berkesimpulan ya mut... Mari kita percayakan jalan ini kepada sebaik baiknya Sutradara kehidupan.

Terimakasih juga yang masih membaca tulisan pengakuan dosa ini >.<, semoga tenang – damai- dan energi baik selalu mengelilingi kalian. Selamat melanjutkan perjalanan ya.


Komentar

Posting Komentar