Mencatat Perpanjangan Tangan Semesta Vol.1

Definisi semesta mendukung deh" ucyap (harus pake y) salah seorang anak yang beberapa hari ini merasa banyak sekali keajaiban yang beruntun menghampirinya (menghampiri ga tuh).
oke, mari kita lanjutkan. Pernah merasakan keajaiban keajaiban keadaan ga si? kaya perpanjangan tangan semesta itu selalu hadir disaat paling krusial, paling engga disangka, dan berada pada saat paling dibutuhkan. Tapi sekarang masalahnya, apa iya cuman saat saat itu aja? 

Menyambung dari tulisan blog sebelumnya (ciyat) mengenai persoalan manusia terbatas. Baru baru ini aku baru sadar kalau bukti manusia terbatas itu ternyata nggak cuman sekedar pengetahuan tapi ternyata juga soal kepekaan dan kemampuan kita untuk melihat yang tidak nampak. Kaya kamu, gak peka, ngeyelan, ngotot, dan penyakit manusia paling banyak... sok tahu. 

Akhir akhir ini, kayanya diri sendiri kepikiran banyak hal karena banyak banget yang harus dikerjain, diselesaikan, dsb. Kalo udah semua kerjaan atau urusan dateng barengan itu pengennya cuman rebahan, berharap punya kekuatan pesulap merah lalu cling jadi dan beres. Tapi kan ga kaya gitu ya? Haaha sesuai prinsip. Tetap dikerjakan walaupun sambil menangis. 
Sembari menangis dan mengutuk keadaan, ternyata urusan yang dirungsingkan itu tetap terselesaikan, tetap bisa diatasi. Lantas kita langsung merasa "hah sipiel" wkwwk diketawain ga sih sama kertas tumpukan yang habis dipisuhi?

Itulah bentuk keterbatasan kita selanjutnya, ternyata hari yang berat juga akan terlewati, urusan yang rungsing juga akan teratasi. Gampang banget protes, gampang banget menyalahkan keadaan. Padahal, mungkin saja saat dimana kita udah kepentok, kejungkel, udah gaada energi lagi baru ada perpanjangan tangan semesta. Tapi lagi lagi, apa iya harus lewat jalan buntu dulu buat bisa jalan terus? Apakah selama ini kita sudah benar benar berusaha sendiri? Memangnya bisa? 
Nah ini lo, rumongso biso - bukan biso rumongso. 
Rumongso biso kalau kalau bisa mengatur takdir biar semuanya lancar, sempurna, sentosa aman muwehehee, padahal ya engga. 

Mencatat perpanjangan semesta ternyata ga harus dilihat waktu kita pusing dulu, tapi baru bisa kerasa emang paling berefek waktu kepepet dan berserah. Kalau kata Kunto Aji "Biarkanlah semesta bekerja". Ternyata menurut medisnya pun otak bisa bekerja optimal waktu last minute karena adanya upaya otak dalam mempertahankan keseimbangan tubuh untuk mempersiapkan reaksi stres pada otak yang dihubungkan ke kelenjar pituitari. Bahkan dari hal bioligis dalam tubuh kita ternyata 'kerungsingan' jadi faktor penting juga dalam kemampuang berfikir. 
Apalagi ya contohnya, banyak deh. Pasti masing masing dari kita juga pernah mengalami kejadian ajaib seperti itu. Tapi siapa tahu, kemudahan kemudahan dan upaya penyelamatan semesta ini adalah bagian dari hasil kepusingan kepusingan sebelumnya. 

Mungkin kalau kita tidak cukup pusing, kurang nyungsep, kurang berdarah darah dan berserah.. ngga akan bisa mendeteksi rahmat dan rezeki yang diparingkan kepada kita. Mungkin kalau ndak lewat hari hari yang panjang, ngga mungkin sebahagia dan sepenuh ini kita bereaksi dalam memaknai hari. Bisa jadi ini upaya semesta menyeimbangkan dan mengkalibrasi diri kita dari hal hal yang sebelumnya "tidak seimbang". 

Upaya semesta mengkomunikasikan kalau kita punya mampu yang lebih dari yang kita kira, kita juga punya keterbatasan lebih dari pada yang kita sangka, dan kita punya variabel kedirian yang kaya akan keragaman untuk membentuk diri kita - sedemikian rupa 🤍. Kalau ngendikannya Rumi dalam puisinya, "Hujan paling deras, turun dari awan yang paling gelap". 

Kita semua akan besar dengan segala kesulitan. Kita berhak untuk memperkaya diri dengan segala sesuatunya yang telah ditakdirkan kepada kita. Memang ada kalanya saat saat kita paling dekat denganNya tapi ternyata kita lupa.. kalau 'tidak' itu juga jawaban. Seolah menganggap penolakan itu tertunda.. padahal jawaban itu ada iya dan tidak. Mengutip dari nasihat Ibnu Athaillah.. "Penolakan Allah itu lebih baik dari pemberian makhluknya" . 
Jadi bestie.. kalau misal rasanya usaha kita belum ada jawaban atau bahkan jawabannya itu "tidak", jangan cepat disimpulkan ya. Kita manusia, sekali lagi....Terbatas. Kalau kita nggak pernah kalah, nggak pernah gagal, nggak pernah ditolak ya kita ngga akan pernah belajar dari rasa tidak nyamannya. Kalau berhasil terus, sempurna terus untuk apa rasanya kita diciptakan ya?

Semoga kita manusia manusia yang bisa mensyukuri rahmat dan peka terhadap melimpahnya pertolongan Tuhan ya. Semiga kita selalu mengupayakan kesadaran untuk memahami banyak hal didunia, mengupayakan usaha untuk terus belajar ikhlas. Sungguh sungguh dalam keikhlasan dan ikhlas dalam kesungguhan. 

Selamat mencatat rangkaian perpanjangan semesta kepada kita, selamat memperkaya diri 🤍



Komentar

Posting Komentar