Obat Pahit Merk "Ketidak Sempurnaan"

    Halo bertemu lagi kita setelah sekian purnama, seperti janji jawaban protes dari salah satu sender pembaca setiya "Mutia kamu baru update nulis kalo udah underpressure ya baru curhat nulis". HAHAHAHA ketahuan ato gimana ya, tapiiii aku bertekat untuk upgrade konten biar ngga berbasis sambat dulu, ya pelan pelan tapi... berjalan ya kaan ?

    Hehe

    Masih dalam suasana awal tahun, sedikit flashback kisah 2022 ku yang subhanallah wal hamdulillah. Mulai dari kisah naik turun skripsian, resign asdos, wisuda, masuk kerja jadi anak bontot diakhhir tahun, sampe kisah yang lagi lagi nice try dan bersorai dengan banyak hal, eaa. WKWKWK. Oke tapi tetep aja, Alhamdulillah pelajaran dan warnanya 2022 insyaAllah menjadi turning point paling kerasa dan masuk dalam nominasi tahun paling berkesan.

    Oke dilanjut nggeh, 

    Seperti layaknya permasalahan anak muda idealis fresh graduate mambu kencur ainnya, aku pun masih berusaha banget untuk mengupayakan diri biar nggak cepet banget ngerasa gagal, gampang marah, gampang hancur. Apalagi di era yang super distruptif yang punya banyak bias, nggak jarang juga penyakit comparing ini masih jadi PE_ER besar buat saya. Sejak jaman skripsian - ngecompare timeline dan alur skripsi yang ga bisa secepet temen lainnya - merelakan mimpi 3,5 tahun karena pembimbing yang *ehem MasyaAllah = makin gagal dan merasa paling tersakiti, yudisium - masih dipersulit revisian hampir 7 kali = ngerasa gagal lagi, Harus resign asdos dan menunda target s2 karena ada urusan pekerjaan = denial dan merasa Allah ga sayang akuw (hiiih .. diguyu malaikat ngga si), kisah kisah perpisahan dengan sahabat bertumbuh dan kisah perpisahan lainnya yang ga sepat dituntaskan karena lagi lagi, rasanya timeline urip tidak mengizinkan aku untuk bersedih terlalu lama = merasa paling butuh rehat, dll. Yha saya akui sebagai manusia lemah dan gembengan bahwa merasa paling berat di tahun 2022 ini tapi juga jadi tahun paling layak diapresiasi karena.. sebagai pemuja sistem dan timeline gempuran realita yang petenteng petenteng bilang "GAK DULU Y" itu menjadi turning point mutiki sebagai manusia berbudiman (amin).

    Ada suatu masa dimana saat aku sress banget masa peralihan dari dunia perkuliahan - dunia kerja (ya masih sampai sekarang sih kadang kadang). Selain penyakit comparing, ada juga yang namanya Perasaan merasa "tidak cukup baik" dan mengurangi penyakit virgo mania mantap yakni, perfeksionis. Merasa gagal karena ngga cukup baik dan membuat banyak kesalahan, sampe rasnaya pesimis banget. Ngerasa ga bisa dan berhak mengapresiasi diri bahkan ketika target atau sebuah goals tercapai (ya namanya ngga bisa sempurna, ya gitu deh), marah banget karena adaptasi yang belum cukup cepat, dan lainnya. Tapi kalau kita bleh sedikit ambil jarak dan jeda.. harusnya sih bisa lebih apresiatif, tapi lagi lagi .. jiwa perfeksionis ini mengatakan "Ngga, standarnya ngga segini, udah deh gabisa kok menyerah aja apa ya?". Cie .. anak gen z banget ga tuh 

    Akhirnya kembali berkonsultasi kepada mentor nomor 1 dihidup saya, yakni bapak sendiri. Sembari menangisi kisah hari hari lembur dan melelahkan terceletuklah nasihat bapake seperi ini,
Ayah : 

"Kita itu punya kedirian yang sangat beragam, pun dengan papaun yang sedang kamu hadapi. Namanya juga masih baru, ya tempatnya salah, kalau bener terus namanay lawas. Terus dengan kamu menyerah? yakin ngga ada sisi yang kamu syukuri dan kamu ambil kebaikannya dari kegiatan yang selama ini kamu rasakan? satu pun ?". 

Mutiki

"....eee ada si harusnya"

Ayah : 

"Kenapa harusnya? memang kamu maunya seperti apa? mau langsung juara? mau langsung berhasil? kan ngga bisa.. se sesmpurna sempurnanya dirimu selalu ada kurangnya. Orang hebat dan berhasi itu bukan orang yang selalu benar, tapi orang yang mau mengupayakan kebenaran. Coba pelan pelan dirubah cara mikirnya. Being an amateur never been easy! orang berplanning boleh saja, menyusun strategi.. baik sekali. Tapi kembali lagi.. semua kehidupan itu selalu tidak pasti, dan ketidak pastian hidup itu adalah sebuah kepastian".

Mutiki :

"Tapi.. aku masih merasa tidak cukup baik, ya bagi semuanya.. aku bisa nggak sih yah, aku merasa selalu kehabisan waktu, terburu buru dan merasa dikejar kejar ekspektasiku sendiri ?"

Ayah :

"Loh .. ya namanya berproses, membutuhkan waktu. Yah memang resiko ,, dengan semua tantangan kehidupan era masa kini.. dan arus informasi .. kamu jadi mudah terputus dengan dirimu sendiri, dengan sejarah yang sudah membentuk kamu sampai hari ini. Ini lo.. ketika kita sedang mengupayakan sesuatu, ada kalanya kita merasa sangat optimis dan ada kalanya kita juga bisa jadi sangat pesimis. Ada satu hal yang harus terbangun dalam framework pemikiranmu. Harus ada yang menghubungkan rasa optimis dan rasa pesimis, namanya .. menerima ketidak sempurnaan. Hanya dengan menerima 'ketidak sempurnaan' lah kita bisa menembus batas batas rasional pemikiran tanpa perlu yakin 1000% apakah pemikiran kita itu benar benar bisa dibuktikan. Tapi kita cukup yakin untuk bisa melaluinya - suatu saat dengan pemikiran dan hati yang terbuka. Sederhanaya.. tawakkal".

"Bekerja itu kan berarti bergerak, bisa juga jadi jalan khidmah. Berkhidmah berarti menyediakan diri agar bermanfaat untuk prang lain. Hikmad itu nantinya akan menaikkan kapabilitas diri, kekuatan mental, menambah kecerdasannya karena harus mengurus - menghitung - ukuran kebaikan orang lain (tidak egois, tidak subjektif), jadi nambah wise.. dan realitanya urusan diri sendiri itu akan terselesaikan dengan menyelesaikan urusan orang lain. Contoh, kita punya problem keuangan.. lalu bekerja.. bekerja kan menyelesaikan persoalan orang lain.. lalu nanti ada bisyaroh setelah bekerja, berarti menyelesaikan permaslahan diri sendiri tadi to?'

...

    Bisa disimpulkan sendiri bagaiman reaksi selanjutnya ya, tentu saja.. tertampar wolak walik, perih dan pahit. Ya, karena yang didengarkan saat itu sudah sangat menjawab semua problmeatika diri mutiki, tetapi apakah lantas langsung informasi itu bisa terproses dengan baik? oh tentu tidak. Sebagai salah satu spesies ngeyelan kerap kali protes kecil persoalan sempurna ini masih jadi gerutu gerutu kecil "Lah mana nih katanay proses, kok ngga kunjung kelihatan yaa " dsb. Sampai suatu ketika, tibalah hari dimana aku melakukan monitoring terhadap seorang wali awardee yang berprofesi menjadi salah satu rescuer ahli selam BPBD - aktif dalam kegiatan relawan dan sosial (wali penerima beasiswa tempat aku bekerja saat ini). Beliau dengan segala kesulitan dan permasalahan yang diahapi  masih memilih jalan untuk membantu orang lain, dengan segala rela dan ikhlasnya masih mau mengupayakan urusan orang banyak bahkan saat diri dan keluarganya juga kesulitan. Beliau bisa dengan tersenyum menceritakan persoalan keajaiban tawakkal dalam melalui hidup yang serba tidak pasti ini. "Kalau mau terus marah, tidak mau mengerti dan menerima.. saya rasa sudah mati dari kemarin sore mbak.. tapi mata pencaharian saya ini sudah menjadi jiwa saya, kalau cuman mau protes dan hitung hitungan soal untung .. untungnya untuk saya dimana mba? .. Saya cuman berpegang pada doa.. dan rezzeki pasti ada aja jalannya nanti". 

    Oke ini sedikit emosi

    "Kurang jelas apa mut Allah kasih rahmat dan nikmat melalui pertemuan yang berkah ini? kurang jelas gimana bagaimana gusti penegran mengantarkan kamu menuju kebaikan kebaiakan lainnya?". Ini lo bentuk perpanjangan tangan semesta yang paling nyata... . Semesta sampek kirim sinyal lewat kisah kisah sekeliling kita, kirim kisah untuk memperkuat circle of trust yang kita punya. Lagi lagi, soal kekayaan dan keragaman yang kita punya seharusnya bisa menjadi modal dalam memproses informasi, menjadi pelindung dan mitigasi kita dalam menghadapi berbagai tantangan urip. Balik lagi soal tawakkal dan menerima ketidak sempurnaan. Kadang memang kita perlu jarak dan perlu menceburkan diri dalam situasi yang bisa membantuk circle of trust. Karena ketika kita manusia yang selalu punya kemungkinan blind spot saat mencoba menganalsisi tentang preceived ability dan actual ability. 

    Tentu bukan hal yang mudah. menerima hal pahit, mengakui kesalahan, menerima ekurangan diri, mengakui kelemahan diri, menerima kritikan, dsb. Bukan hal yang mudah apalagi manusia manusia haus validasi seperti kita kita ini.. padahal.. cuman melalui obat yang rasnaya pahit itu tadi jadi cara paling ampuh dalam membangun circle of trust diri. Sederhannaya gini, bagaimana kita mau membangun sebuah circle of trust kalau diri sendiri masih belum selesai dan mau belajar untuk berdamai dengan ketidaknyamanan akan kekurangan. Belajar... membiarkan 'jarak' mengoreksi, membangun kita menjadi pribadi yang lebih baik tentunya.

    InsyaAllah.. toh kemanapun nantinya kita akan sampai. Perjalanan dari satu titik ke titik yang lain ini kan sudah berada dalam satu lintasan yang telah diatur dengan sedemikian rupa. Kemanapun kita melangkah, kemanapun kita berhembus selama itu dibangun dengan hal yang baik.. kayanya ngga mungkin kita akan ditelantarkan begitu saja. Gusti Allah kan maha bertanggung jawab atas segala urusan makhlukNya.. ngga kaya kita yang hobinya php, php-in diri sendiri ...contohnya. Jika memang insting kita perjalanan ini terkadang tidak mengarah pada titik kesempurnaan versi kita, pasti akan berhembus dan berakhir pada titik terbaik bagi kita, titik yang kita butuhkan. Semoga kita masih diksaih kesempatan untuk terus berbenah, belajar, dan bermanfaat yaa!

    Dah deh sekian aja dulu ya ceritanya, kita sambung kapan kapan lagi... yang pasti.. selamat tahun baru 2023, seperti doanya semoga kita bisa "selamat, sampai akhir". 

Walahu'alambissawaf

Dadaa !



Komentar