Mencatat Perpanjangan Tangan Semesta Vol.2

  

“Perjalanan paling ditakuti orang bukan pergi ke sebuah tempat yang jauh, tapi justru sangat dekat dengan dirinya, yaitu ke alam dirinya sendiri. Bahkan terus menyibukkan diri melakukan berbagai hal diluar kendali, sering kali diam – diam untuk menghindari perjalanan kedalam” – Adjie santoso putro. Mungkin itu persis adalah perasaan yang selalu menegangkan ketika harus merefleksikan apa yang sudah terjadi, mencari sebuah solusi atas beberapa pertanyaan dan problematika yang emang jawabannya cuman ada didalam diri sendiri. Yhaaa karena aku juga sudah berjanji untuk merutinkan refleksi besar besaran setiap satu tahun sekali, jadikan kerepotan refleksi ini juga akhirnya selalu terlaksana meskipun dalam keadaan yang aku kira “dah istighfar ae lah” gitu. Tapi Tuhan tetap maha lebih baik, nikmat refleksi itu selalu sempat dan disempat- sempatkan, hehe.

Refleksi besar besaran itu selalu digelar di malam ulang tahunku di pojok kamar sendirian, tapi.. ulang tahun kali ini ada yang berbeda, hiya.. Apatuu..

Yha

Pertama kalinya refleksinya berlanjut dan for the first time in my life - seumur hidup seorang mutiki pake infus (pencapaian macam apa ini). Kejutan kali ini aku sakit cukup – parah tapi gak gawat gawat banget, yang jelas sampe turun 5 kg (wow info penting).  Aku jatuh sakit sekitar hampir 3 minggu dengan 1 minggu full perawatan di rumah sakit dan recovery sekitar hampir totalnya .. satu bulanlah. Padahal bulan september ini bisa dibilang cukup banyak project yang harus dikerjakan, akhirnya harus di tata ulang dan beberapa harus direlakan (DAH GAUSAH DIRATAPII MUUT).

Ketika  kejutan kejutan datang- apalagi yang gak sesuai dengan planning dan harus bongkar pasang tata ulang - respon pertama yang dimunculkan dari manusia belia dan kekanakan ini adalah : “AH ELAH” -- marah dan frustasi , kaya waktu di malam malam kritis itu, aku susah nafas, jam 2 malam, gaada orang bangun, pengen pipis, tapi suseh bin ribet mau ke kamar mandi saja, pokoknya nggak nyaman. Tetapi manusia emosional itu nggak cuman protes sambil kosel kosel seperti biasanya, dia juga mendadak menangis (budak hormon) “kenapa mau pipis aja syuseeeh”. Tapi terus karena nangis dia jadi cape karena energi yg dikeluarkan untuk marah itu lebih besar. Akhirnya setelah menenangkan diri  dia bangkit dan ke jedhing seperti biasa sembari membatin “PADAHAL BISA GA DRAMA LOH”. Tapi agi lagi karena sudah habis energinya, yasudah dia tidur lagi setelah kosel kosel sekitar 2 jam.

Besoknya dia merenung “kenapa semalem drama banget?’’ sembari mencerna kerewelan lain soal menu makan yang pahit. Sembari tertatih mengolah rasa tidak nyaman di sekujur tubuh dan batinnya, mutiki mencurahkan rasa tidak nyaman tersebut dalam kemasan sambat kepada salah satu sahabatnya. Kira kira begini,

M : “ Ga enak semua, huhu aku banyak project bulan ini, gapapa ta ya ?”.

A : “Ya namanya juga musibah, gaada yang tahu fokus recovery aja”

M : “Harus bongkar pasang, ngerepotin orang banyak “

A : “Belum tentu musibah juga sih sebenernya, siapa tahu ini kamu lagi di – reset karena setahun terakhir kamu belum rehat sama sekali. Nih redirection aja, nggak nyaman dikit emang tapi ini bukan sesuatu yang akan membunuhmu kan? Siapa tahu tubuhmu memang butuh”.

……..

Redirection(n); /the act of sending something to a different address or in a different direction/. 

………..

Ini redirection aja” setelah rewel sekitar tiga minggu kata kata ini jadi mantra baru buat aku. Ya, mungkin setahun terakhir sudah kebanyakan merasa hebat sendiri, mungkin sudah lama kita berjalan di jalan yang nggak seharusnya buat kita. Bukan gagal atau mentok, bukan – tapi pengarahan kembali.  Mungkin sudah terlalu jauh kita sebagai manusia lepas dari peran manusia seharusnya…ngerasa bisa mengatur semua sendiri padahal mungkin sang maha mengatur segalanya sudah beberapa kali kasih isyarat, tapi kita yang nggak nangkep. Lag lagi soal kegagalanku sebagai manusia yang semoga akan teru diparingi sepura : sok tahu soal batasan.

Saat itu aku sadar refleksi efisien yang harus segera aku pelajari dan buka sekuelnya adalah, memetakan rasa tidak nyaman dan sakit. Aku merasa perlu segera mengulik sekuel ini karena rasanya selama ini aku cukup sering  mengalokasikan energi untuk hal hal yang kurang perlu. Alih alih mencoba mengatur energinya, aku sering salah merespon emosi yang lagi lagi jadinya, terbuang begitu saja. Begini hasil observasi mutici atas identifikasi rasa tidak nyaman dan rasa sakit.

Rasa tidak nyaman adalah bagian penting dari menguraikan atau membentuk energi baru yang dibutuhkan. Proses ini memang kadang membutuhkan energi lebih besar (rasanya) tetapi jika kita menerima dan mengikuti prosesnya – rasa tidak nyaman itu akan membuka ruang ruang pertumbuhan, kalu kita mengabaikan rasa tidak nyaman maka kemungkinan dan peluang bertumbuh itu yang mungkin tidak akan bisa kita akses. Sedangkan  rasa sakit berpotensi  menyebabkan cedera, sakit tidak akan membuka akses peluang pertumbuhan, karena bagaimanapun satu satunya cara mengelola rasa sakit yang paling efektif ya dengan disembuhkan, meskipun mungkin meninggalkan bekas. Tapi setelah dipikir pikir juga, proses menyembuhkan sakit ini tetap membutuhkan rasa tidak nyaman untuk sembuh. Saat kita tersandung dan lutut kita cedera, kita butuh obat pereda nyeri yang mungkin lebih nyeri dan tidak nyaman dari sakitnya, kita butuh sedikit rasa tidak nyaman untuk sembuh. Kata kuncinya disini, memetakan rasa tidak nyaman – membuka chapter untuk berkenalan dengan rasa tidak nyaman kali ini aku rasakan pertama kali saat frustasi karena demam yang nggak kunjung turun. Padahal mungkin perasaan sebetulnya respon marah karena ga bisa mengidentifikasi ini rasa gak nyaman atau rasa sakitnya lebih parah dari pada penyakit itu sendiri.

Proses ini yang sering aku lewatkan, koreksi kartu merah untuk mutiki adalah ketika sakit itu berbekas – ia merasa itu adalah sebuah aib,kegagalan, ketidaktuntasan, pokoknya sering dikorek korek lagi ... “diapain lagi ya biar sembuh”.. padahal mungkin yang dibutuhkan cuman – waktu?

Aku masih sering lupa kalau bekas sakit adalah sebuah ‘tanda’ kalau kita pernah sakit.  Aku masih sering lupa kalau ‘tanda’ ini adalah jejak rekam kuatnya kita melewati sesuatu dan berupaya sembuh. Aku juga sering lupa kalau ‘tanda’ yang tidak sempurna ini memang tidak perlu kembali seperti semula, jadi bukan belum sembuh sempurna. Aku sering lupa juga, kalau ‘tanda’ ini harusnya hadir dikenang sebagai bentuk nyata pertolongan Tuhan, karena atas izin dan kehendakNya kita bisa melalui sebuah kisah sulit sebelumnya, bukan malah diratapi dan nggak diikhlasin.

Berhadapan dengan rasa tidak nyaman berarti membantu dan menolong diri sendiri untuk sembuh. Secara nggak sadar lagi lagi ada bagian dari diriku yang aku sendiri nggak kenali. Melihat kedalam diri selalu memberi kesan tidak nyaman, karena ternyata aku masih sering mencampurkan dan gagal mengidentifikasi perasaan perasaan tidak nyaman, dan sakit. Mana yang harus cukup dihadapi dan dilalui, dan mana yang memang harus diobati. “Jangan ditekan, jangan dihindari, jangan disangkal. Tapi jadikan dia bagian dari penyembuhan kita”- Dee Lestari. Begitu kira kira, hasil observasiku mengidentifikasi rasa tidak nyaman dan sakit.

Setelah kini aku tahu kalau memetakan rasa tidak nyaman  dan sakit itu adalah dua hal yang berbeda, aku jadi lebih mudah mengatur energi dan mendistraksi emosiku ketika berhadapan dengan rasa tidak nyaman dan rasa sakit. Ternyata selama ini caraku mengatur energi menghadapi mereka benar benar remedial, HUAHAHA (no wonder mbakku sering protes “ojok alay po o”). YHAAAA tapi ini kan serunya jadi manusia?

Selain nikmat akal dan perasaan, kita diciptakan untuk merasakan berbagai hal, kita akan bertemu berbagai ruang dan pertanyaan yang .. ya boleh boleh aja untuk selalu dirayakan. Setelah setahun lalu aku belajar mengenai batasan dan kalibrasi energi, tahun ini aku belajar memetakan kembali. Rasanya selalu menyenangkan bisa melihat anugerah tuhan dan menangkap pesan dari semesta tentang apa yang harus dibenahi. Maka dari itu refleksi ini harus berkelanjutan, karena masih ada dan akan terus ada, bagian dari diriku yang “loh baru kenal kita”.

Kalau kata bu Sylvia Plath,

“ Aku takkan  pernah bisa menjadi semua orang yang kuinginkan dan menjalani semua kehidupan yang kuinginkan. Aku takkan pernah bisa melatih diriku dengan semua keahlian yang kuinginkan. Apa yang kuinginkan? Aku ingin hidup dan merasakan semua gradasi, warna, dan variasi pengalaman mental dan fisik yang dimungkinkan dalam hidupku”.

*Kutipan nasihat Sylvia Plath dalam buku The Midnight Library – Matt Haig

Mungkin segini dulu refleksi tahun ini, karena masih recovery jugaaa hehe terima kasih db, tipes, bronkitis yang sudah menyapaku selama satu bulan ini, aku jadi kenalan dengan variabel variabel kedirian lain, kembali mendeteksi rahmat pengeran yang sering dilewatkan. Janji setelah sehat  aku akan lebih bijak mengatur emosi dan energi, biar nggak nge counter rasa sakit dan tidak nyaman menggunakan hal hal yang gak baik untuk kesehatan fisik dan mental, hehe

Selamat belajar terus sobi sobi, doa penutup refleksi masih sama- semoga kita selalu punya daya dan upaya untuk belajar terus, kenalan terus, bersyukur terus.

Saling ngingetin ya kita, sehat sehat semua :3

 

 


Komentar